Bondowoso – “Sampek mate, sampek odik pole” bukan sekadar ungkapan kesetiaan seorang santri kepada gurunya. Bagi KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D., kalimat tersebut merupakan cerminan komitmen untuk menjaga khidmah, mahabbah, serta ikatan ruhani dengan guru, bahkan melampaui batas kehidupan dunia.
Pesan itu disampaikan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy dalam acara Tasyakuran dan Doa Bersama Harlah IKSASS ke-38 di Aula Lantai II Pusat IKSASS, Kamis, 1 Oktober 2026.
Ketua Umum Majelis Syuri Pusat IKSASS sekaligus Pengasuh ke-IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, tersebut berbicara dalam momentum yang mengusung tema “Merawat Mahabbah, Menjaga Sanad Perjuangan.”
Menurut KHR. Ach. Azaim, peringatan Harlah IKSASS tidak semestinya berhenti pada seremoni untuk menandai bertambahnya usia organisasi. Lebih dari itu, momentum tersebut harus menjadi ruang untuk mengingat sekaligus memperkuat kembali sanad pengabdian kepada para guru.
“Hari ini adalah hari yang terus kita kenang di setiap kalender tahunan. Hari ini adalah hari pengingat dan peneguh sanad pengabdian kita untuk terus berada dalam wilayah mahabbah guru-guru yang mulia,” ujarnya.
Dari momentum tersebut, KHR. Ach. Azaim mengajak para santri dan alumni kembali mengenang sosok Raden Ibrahim, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo.
Ia mengaitkan nama Ibrahim dengan keteladanan Nabi Ibrahim AS, salah satunya melalui makna Abun Rahimun, yakni sosok ayah yang penuh kasih sayang.
Menurutnya, ketokohan Nabi Ibrahim juga dapat direnungkan melalui peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Nabi Muhammad SAW berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh.
Nabi Ibrahim disebut berada di Baitul Ma’mur, yang dalam penjelasan keagamaan dikenal sebagai tempat yang memiliki kedudukan penting di langit ketujuh dan berkaitan secara simbolik dengan Baitullah di bumi.
Bagi KHR. Ach. Azaim, rangkaian keteladanan tersebut menyimpan pesan ruhani yang relevan untuk memahami makna khidmah, terutama hubungan antara seorang guru dan murid.
Ia kemudian mengaitkannya dengan konsep al-ubuwah, yakni ketokohan seorang ayah.
“Sejarahnya, fakta kemanusiaan, bahwa tidak ada satu pun nabi dan rasul menjalankan tugas kenabian kecuali dengan pendekatan al-ubuwah sebagai sosok ayah,” katanya.
Ia menyebut Nabi Adam sebagai Abul Basyar, Nabi Nuh sebagai ayahanda manusia setelah peristiwa banjir, dan Nabi Ibrahim sebagai Abul Anbiya.
Dari konsep tersebut, KHR. Ach. Azaim mengajak para santri memahami bahwa perjuangan para nabi dan rasul tidak hanya diwariskan dalam bentuk ilmu, tetapi juga melalui tata nilai, keteladanan, kasih sayang, dan tanggung jawab seorang ayah.
Dalam konteks pesantren, nilai itu menemukan bentuknya dalam relasi antara guru dan murid.
“Maka Raden Ibrahim adalah ayahanda ruhani kita,” tegasnya.
Menurutnya, para santri dan alumni merupakan anak-anak yang lahir dari doa, mujahadah, ajaran, serta dawuh para guru.
“Kita adalah anak-anak yang lahir dari rahim doa-doa beliau, yang lahir dari rahim mujahadah beliau, dari ajaran beliau, dari dawuh-dawuh beliau,” tuturnya.
Guru Mendidik dengan Kata dan Keteladanan
Bagi KHR. Ach. Azaim, guru tidak hanya berperan sebagai sosok yang mentransfer pengetahuan. Guru juga menghadirkan pendidikan melalui kasih sayang, rahmah, keteladanan, dan tindakan nyata.
Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan pesan Nabi Muhammad SAW:
“Innamā anā lakum bimanzilatil-wālidi u’allimukum.”
Menurutnya, pesan tersebut mengandung makna bahwa Nabi Muhammad SAW menempatkan dirinya bagi umat seperti kedudukan seorang ayah yang mendidik anak-anaknya.
“Nabi sudah menegaskan, ‘Aku hanyalah bagi kalian seperti kedudukan seorang ayah. Aku mengajar kalian,’” jelasnya.
Dari sinilah, kata dia, dikenal konsep al-ubuwah fid-din, yakni kedudukan ayahanda dalam kehidupan beragama. Hubungan tersebut tidak semata-mata dibangun berdasarkan pertalian darah, tetapi melalui kasih sayang, pendidikan, pengabdian, dan keteladanan.
Menurut KHR. Ach. Azaim, seorang guru bahkan tidak selalu mendidik melalui ceramah atau kata-kata. Dalam banyak keadaan, tindakan sederhana seorang guru justru mampu meninggalkan pelajaran yang lebih dalam.
Ia menyebut prinsip lisānul hāl afshahu min lisānil maqāl, bahwa lisan keadaan terkadang lebih fasih daripada lisan perkataan.
“Kadang-kadang di antara guru kita ada yang nyaris jarang banyak bertutur kata, tetapi lisanul hal-nya mengajarkan ribuan makna kepada kita,” ujarnya.
Keteladanan itu, menurutnya, dapat ditemukan dalam berbagai hal sederhana. Mulai dari keistikamahan membuatkan kopi, menyangrai jagung untuk para santri, membangun dan membimbing santri secara konsisten, memberikan wejangan, hingga berkeliling pondok pada pagi hari untuk melihat aktivitas para santri.
Bagi KHR. Ach. Azaim, semua tindakan tersebut bukan sekadar rutinitas. Di balik kesederhanaan itu terdapat proses pendidikan yang berlangsung tanpa banyak kata.
“Semua itu adalah lisanul hal yang sering kali menjadi lebih fasih daripada lisanul maqāl,” ungkapnya.
Khidmah yang Melampaui Batas Kehidupan
Dari keteladanan para guru itulah, menurut KHR. Ach. Azaim, tugas-tugas mulia kenabian diteruskan melalui ta’limul ummah dan ta’limuth-thalabah, yakni mendidik umat dan mendidik para pelajar.
Pendidikan tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mencerdaskan pikiran. Lebih jauh, pendidikan diharapkan mampu menghidupkan hati dan ruh.
Ia menyebutnya sebagai hayātul qulūb, kehidupan hati, serta kehidupan arwah atau jiwa yang memiliki dimensi lebih panjang daripada kehidupan jasad.
Dalam kerangka itulah KHR. Ach. Azaim memaknai ungkapan “sampek mate, sampek odik pole.”
Ungkapan tersebut, menurutnya, menggambarkan kesetiaan seorang santri untuk terus menjaga hubungan dengan guru melalui khidmah dan nasab ideologis.
“Boleh. Memang sesuai dengan khidmat para guru-guru kita, bahwa kita bernasab ideologis kepada beliau,” katanya.
Nasab ideologis tersebut tidak hanya dimaknai dalam hubungan kehidupan di dunia. Lebih jauh, terdapat harapan agar ikatan dengan guru tetap terjaga hingga kehidupan akhirat.
“Bukan hanya di dunia, tetapi kita ingin bersama beliau di surga Allah,” lanjutnya.
Karena itu, ia mengingatkan para santri dan alumni agar tidak membiarkan hubungan dengan guru berhenti pada ikatan lahiriah.
Yang harus dijaga, kata dia, adalah ikatan iman dan ruhani.
“Rawatlah rābithah īmāniyah ini. Rawatlah rābithah rūhiyah ini. Yang jauh melampaui rābithah jasadiyah,” pungkasnya.
Pada akhirnya, “sampek mate, sampek odik pole” bukan sekadar semboyan kesetiaan.
Ungkapan itu menjadi penegasan bahwa khidmah kepada guru merupakan perjalanan panjang yang dirawat melalui mahabbah, diwujudkan melalui keteladanan, dan diteruskan melalui perjuangan.
Sebab bagi seorang santri, hubungan dengan guru bukan hanya tentang siapa yang pernah mengajarkan ilmu, melainkan tentang nilai, adab, dan perjuangan yang terus hidup setelah ilmu itu diterima.